MAY*T-MAY*T YANG MENARI
****
“Kamu wes lihat ta, mayatnya Ajeng?” tanya seorang lelaki pada temannya yang sedang menyeruput kopi. Mereka tampak asyik berbincang di sebuah warung kopi yang cukup ramai.
“Ish, yo nggak lah, Kir. Ngapain lihat mayat gitu. Kayak nggak ada kerjaan aja,” jawabnya acuh. Ia meletakkan gelas kopi yang isinya hampir habis.
“Wah, nggak update kamu. Aku aja sudah lihat, kebetulan istriku dikirimin rekaman penemuan mayatnya, Ajeng, sama teman di grup arisannya.” Ucap Kirman bangga.
Dalman hanya mengembuskan napas kasar, ia kemudian menggelengkan kepalanya.
Beberapa waktu ini, kampung mereka memang sedang heboh dengan kasus kematian beberapa wanita yang m*yatnya mengering setelah menikah dengan Faidil, lelaki berusia 30 tahun yang sudah tiga kali menikah.
Dua istri Faidil yang sebelumnya juga meningg*l dengan kondisi yang serupa. Jasad mereka ditemukan kering di dalam kamar. Menurut pengakuan Faidil, sebelum meningg*l mendiang istrinya mengalami sakit yang tak kunjung sembuh.
Awalnya, para warga mencurigai jika ia sendiri yang menumbalkan istrinya, namun asumsi itu dibantah oleh pihak keluarga Faidil yang sudah berupaya menyelamatkan nyawa semua mantan istrinya. Seorang lelaki yang kebetulan dipercaya sebagai orang yang paham agama pun sudah mencoba membantu Faidil dan keluarganya.
Hingga beberapa minggu yang lalu, Ajeng, perempuan yang berusia 22 tahun ditemukan meningg*l setelah 3 bulan menjadi istri Faidil. Video penemuan jenazah Ajeng tersebar luas, pihak keluarga menyayangkan hal itu namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Video sudah terlanjur masuk ke sosial media dan sangat sulit untuk menghapus jejak digital.
Salah satu orang yang mendapatkan video Ajeng adalah Wiwi, istri Kirman. Ia bahkan tak segan menyimpan video musibah tersebut dan menjadikannya bahan koleksi. Bukannya melarang, Kirman malah membiarkan Wiwi melakukan hal yang sebenarnya tidak pantas tersebut. Toh, keluarga Faidil juga tidak mengetahui siapa saja yang memiliki video itu.
****
Dalman memutuskan pulang dan menemukan istrinya Rokayah sedang memasak makan siang untuk mereka, ia duduk dan termenung di meja makan sementara Rokayah menautkan alis setelah melihat perilaku sang suami.
“Ada apa, Mas? Ada masalah?” tanya Rokayah yang sudah sepuluh tahun menjadi istrinya.
Dengan sigap wanita itu menuang kopi, gula dan air panas ke dalam gelas lalu membawakannya pada sang suami. Dalman hanya tersenyum menerima perlakuan manis sang istri. Ia tak menolak, meskipun sebenarnya ia sudah meminum satu gelas kopi di warung tadi.
“Nggak apa-apa, Ro. Mas cuma kasihan aja, sama Faidil. Gimana-gimana, dia ‘kan teman Mas juga.” Jawabnya singkat.
Rokayah tampak mengulum bibir.
“Iya sih, kasihan. Apalagi sekarang keluarganya dikucilkan, Mas. Padahal belum tentu tuduhan warga tentang Faidil yang menjalankan ritual sesat itu benar.” Timpal sang istri.
Dalman menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Dulu, ia dan Faidil cukup dekat karena kebetulan lelaki itu suka menggunakan jasanya sebagai tukang ojek untuk mengantarkan barang pada pembeli yang berlangganan dengan toko kelontong miliknya. Tak jarang Faidil selalu memberikan tip lebih atau buah tangan untuk ia bawa pulang.
“Tapi, emang ngeri Mas, kalau lihat penampakan jenazahnya Ajeng, badannya benar-benar kering, macam—”
“Dek? Sudah, jangan di bahas. Nggak baik, saru.” Potong Dalman mengingatkan.
Rokayah hanya tersenyum malu, lantas kembali sibuk dengan masakannya.
“Mana Inayah?” tanya Dalman mengganti topik pembicaraan, sejak tadi ia tak mendapati putri semata wayangnya yang berusia 8 tahun.
Rokayah yang baru saja menyicipi sayur sup yang di buatnya menoleh, “Oh, dia di ajak sama Riyas, Mas. Katanya sih, mau beli es campur.”
Dalman kembali manggut-manggut. Selain Rokayah dan Inayah, putri mereka, rumah itu juga di tempati oleh Riyas, satu-satunya adik Dalman. Gadis berusia 25 tahun yang sampai sekarang belum menikah. Dalman pernah menyinggung hal itu, namun Riyas selalu berdalih dengan banyak alasan. Padahal wajah adiknya itu cukup cantik, penampilannya pun menarik.
“Kapan ya, Riyas mau menikah? Aku kemarin ditanyain sama Pak Bagiyo, katanya Heru siap nikahin dia.” Dalman membuka toples plastik yang berisi emping buatan Rokayah.
Sang istri yang kini sibuk mengulek sambal tak menjawab, mungkin takut salah bicara. Hal itu membuat Dalman kembali menghela napas dan membuangnya secara kasar.
“Sabar toh, Mas. Kita nggak bisa paksain dia. Kalau sudah waktunya pasti Riyas akan menikah. Nggak enak juga kalau sampai adik kamu dengar, takutnya dia salah paham.”
“Nggak gitu loh, Ro, si Riyas ‘kan sudah cukup umur. Heru juga. Dari segi finansial dia sudah mapan, mukanya juga nggak jelek-jelek amat. Heran aku sama Riyas, dia tuh cari yang kayak apa, sih.” Sungut Dalman.
Sejak orang tuanya meninggal, otomatis Riyas menjadi tanggung jawab Dalam sepenuhnya.
“Ya nanti kita bicarakan sama dia dengan kepala dingin. Sekarang, Mas makan dulu ya? Aku siapkan makanannya.” Gumam Rokayah sambil menata makanan di atas meja.
Mau tak mau Dalman menurut, ia pun melupakan obrolan tentang pernikahan sang adik untuk beberapa waktu.
****
Hari berlalu, pembahasan tentang kematian Ajeng yang kapan hari ramai diperbincangkan akhirnya hilang dengan sendirinya. Tanpa terasa, tahun telah berganti. Dalman sedang sibuk di teras rumahnya saat Riyas baru saja datang menggunakan motor miliknya. Wajah adiknya tampak kelelahan namun senyumannya merekah.
Ia mencium punggung tangan kakak laki-lakinya dan menghempaskan bokongnya ke atas kursi jati yang masih bagus walau sudah sangat tua. Riyas mengambil sebuah koran dan mengipas wajahnya yang penuh dengan peluh.
“Kenapa? Capek ya, habis lembur?” tanya Dalman tanpa mengalihkan pandangan dari motornya.
“Hu’um,” jawab Riyas sekenanya.
“Makanya nikah, biar ada yang nafkahin. Kamu nanti enak di rumah aja, urusan uang suami kamu yang nyari.” Celetuk Dalman.
“Ish. Aku kalau pun udah nikah tetep mau kerja, Mas. Cari uang ‘kan bukan hanya tugas laki-laki.” Bantah Riyas. Ujung kerudung berwarna navy yang ia gunakan tampak bergerak-gerak.
Dalman mengerucutkan bibirnya yang menghitam karena kebiasaan buruknya merokok setiap hari.
“Kamu itu loh, di kasih tau kok ya, mbantah aja, Yas. Usiamu udah nggak muda, nanti malah nggak laku loh, baru tau rasa!”
Sebuah pukulan pelan mendarat di bahunya, lalu disusul ocehan Riyas yang tak terima oleh ucapannya barusan.
“Amit-amit loh, Mas. Kalau ngomong itu jangan asal ceplos wae. Aku juga bakal nikah, kok. Nunggu restu Mas Dalman aja.”
Dalman terkekeh, ia lantas berbalik dan mengamati wajah Riyas yang tampak memerah bagaikan tomat rebus.
“Seriusan kamu, Yas? Nikah sama siapa? Orang mana?” desaknya tak sabar.
Mendengar perbincangan di antara adik ipar dan suaminya membuat Rokayah tertarik dan mematikan televisi di ruang tamu.
“Siapa yang mau nikah, Mas?” tanyanya penasaran.
Dalman tersenyum geli lalu menunjuk sang adik yang kini mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah, ketika di buka mata Dalman sedikit melotot karena mendapati sebuah cincin dengan mata berwarna biru tua yang sangat indah.
“Ini, dari orang itu, Mas. Dia lamar aku, tapi belum aku kasih jawaban. Aku mau nanya ke Mas dan Mbak Ro, dulu. Waktu aku mau kembaliin, dia maksa suruh bawa pulang cincinnya,” jelas Riyas yang kini tertunduk malu.
Dalman tertawa, ia merasa sangat bahagia dengan berita yang di bawa oleh sang adik.
“Siapa orangnya? Kalau serius langsung ke rumah saja. Niat baik pasti akan Allah permudah kok, Yas.” Seru Dalman.
Senyuman di wajah Riyas hilang, gadis itu tampak ragu mengatakan siapa orang yang sudah mencuri hatinya.
“A—ah, Mas nggak akan marah kalau tau di siapa?” tanya Riyas lirih.
Dalman menautkan alisnya. Ia menatap sang istri kemudian kembali memandangi wajah adiknya.
“Siapa emangnya? Mas kenal?” tebak Dalman.
Riyas mengangguk kecil.
“Heru?”
Riyas menggeleng, “Bukan.”
“Aji, anaknya Pak Rudi?”
Riyas berdecak kesal, “Dia masih kecil, Mas.”
“Kirman?”
Ceplos Rokayah yang membuat wajah Riyas kembali memerah.
“Ya Allah, Mbak Ro! Bukaaan!” ia tersenyum geli.
“Wes, siapa sih? Kasih tau aja, langsung. Kok pakai acara tebak-tebakan, Yas? Mbok pikir, ini acara family 1000?” ketus Dalman yang sudah sangat tak sabar.
Saat akan menjawab, sebuah mobil SUV berhenti di depan rumah mereka. Hal itu membuat perdebatan antara kakak-beradik itu terhenti. Dalman mengernyit, ia tau betul siapa pemilik mobil mewah tersebut. Sejurus pandangannya kembali beralih pada Riyas yang kini menunduk dalam.
“Jangan bilang kalau …,”
“Assalamualaikum, Mas Dalman, Mbak Rokayah.” Sapa seorang pria bertubuh tegap dengan tinggi sekitar 180 senti. Pria itu tampak membawa buket mawar berukuran besar.
“Wa’alaikumsalam, ada perlu apa kemari, Dil?” tanya Dalman . Jantungnya berdetak cepat.
Faidil tersenyum lembut, ia mencuri pandang ke arah Riyas yang menggenggam kotak cincin pemberiannya.
“Maksud kedatangan saya adalah untuk melamar—”
“Ah, maaf sekali Faidil. Dengan penuh penyesalan, sebagai satu-satunya wali Riyas, saya menolak lamaran ini. Sekali lagi maafkan saya.” Potong Dalman cepat dengan mata yang memerah menahan amarah.
****
Lanjut part...
Komentar
Posting Komentar