May*t-may*t yang menari (part 2)

 MAY*T-MAY*T YANG MENARI (2)


****

“Sejak kapan?” Dalman bertanya dengan nada suara yang ditinggikan.


Hal itu membuat Rokayah terpaksa mengungsikan Inayah ke rumah salah satu tetangganya yang kebetulan punya anak berusia sama dengan sang putri. Ia tak mau anaknya melihat kemarahan Ayahnya.


“Riyas! Jawab pertanyaanku, kamu sudah berapa lama berhubungan dengan Faidil?” tanya Dalman sekali lagi. Rahangnya mengeras, giginya bergemeletuk.


Selama menjadi istri Dalman, baru kali ini Rokayah ikut ketakutan melihat suaminya yang sedang emosi. Dalman adalah tipe lelaki yang jarang marah besar, biasanya ia sangat suka bercanda dan membuat lelucon lucu.


“Jawab saja, Yas, jangan buat Mas semakin marah.” Bisik Rokayah, ia mengelus pundak Riyas yang bergetar.


“Hampir enam bulan, Mas.” Suara Riyas tercekat, ia tak berani mengangkat kepalanya dan menatap wajah Dalman.


Brak!


“Beraninya kamu menyembunyikan hal sebesar ini, Yas! Kamu nggak nganggep aku Mas-mu, hah?!” nada kekecewaan terdengar sangat jelas dari ucapan Dalman.


Air mata Riyas mulai berlinangan. Ia tak kuasa menahan emosinya, “Aku nggak ada niat berbohong, Mas. Hanya saja, aku mau nunggu waktu yang tepat buat cerita masalah ini ke Mas dan Mbak Ro. Demi Allah, hubungan kami belum sampai ke jenjang yang sangat jauh, walau kami sudah dekat selama enam bulan.” Jelasnya dengan suara tertahan.


Riyas akhirnya menceritakan awal mula ia dekat dengan Faidil, dari ceritanya, ternyata lelaki itu yang duluan mendekatinya. Hubungan mereka hanya sebatas teman karena Riyas sering berbelanja di toko kelontong miliknya, gadis itu juga baru sadar jika Faidil tergabung dalam satu komunitas yang sama dengannya. Dari sanalah keduanya mulai dekat, dan akhirnya Faidil mengungkapkan perasaannya dan mengajak Riyas untuk menuju ke arah hubungan yang lebih serius.


“Riyas belum kasih jawaban apa-apa ke Mas Faidil,” imbuh gadis berkulit kuning langsat itu. Ia tampak menghapus air mata yang terus keluar tanpa seizinnya.


Hati Dalman tersentuh, bagaimana pun ia tak tega melihat adiknya menangis seperti sekarang.


“Kamu tau bagaimana riwayat rumah tangganya yang dulu ‘kan, Yas? Mas nggak mau kamu ketiban sial dan mati sia-sia.” Lirih Dalman, ia duduk di depan sang adik.


Wajahnya tampak kusut dengan satu tangan terkepal kuat.


“Tiga kali menikah, dan tiga istrinya meninggal dengan cara tak wajar. Semuanya mati kering, seolah darah dan daging mereka habis di serap oleh seuatu yang tak kasat mata. Mas nggak mau kamu bernasib seperti itu. Mas sayang sama kamu, Yas.” Lanjutnya lagi. Pelupuk matanya terasa panas.


Bagi Dalman, apapun akan ia lakukan demi melindungi tiga wanita yang sangat ia sayangi. Rokayah, Inayah, dan juga Riyas. Hanya mereka keluarga yang ia miliki di dunia ini.


Tak ada jawaban dari Riyas, gadis itu hanya meremas jemarinya sendiri. Sesekali terdengar suara tangisnya yang tertahan. Rokayah merasa sangat sedih, ia lantas meminta agar adik iparnya segera masuk ke dalam kamar.


“Kenapa kamu suruh dia masuk, Ro? Aku belum selesai bicara.” Protes Dalman yang menatap punggung Riyas.


Rokayah menghela napas panjang.


“Nanti kita bahas lagi, Mas. Kasihan dia, kita kasih waktu untuk menenangkan hatinya dulu, ya?” jawabnya dengan nada suara yang lembut.


Wanita dengan gamis biru itu berdiri dan berjalan ke dapur. Tak lama ia kembali dengan membawa satu cangkir berisi kopi hitam.


“Dinginkan kepala, Mas. Insya Allah semua akan ada jalannya.” Gumam Rokayah lagi. Ia mengusap pundak Dalman yang kini menengadahkan kepalanya dan menatap langit-langit rumah.


“Aku jemput Ina dulu, Mas. Assalamualaikum.” 


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Dalman pelan.


Kepalanya terasa pening, tak pernah ia bayangkan jika calon suami adiknya adalah pria yang ditakuti oleh para Ibu yang memiliki anak gadis. Paras Faidil memang menawan, ia pun mapan dan punya banyak harta. Keluarga Darmawangsa adalah salah satu keluarga yang terpandang. Bagaimana bisa, Faidil melirik Riyas yang hanya bekerja sebagai buruh di pabrik kue kering?


Teringat akan pembicaraannya dengan sahabatnya Kirman, lelaki itu menceritakan detail kondisi mayat Ajeng, anak juragan beras yang meninggal setelah tiga bulan dinikahi oleh Faidil. 


Tidak, Riyas tak boleh ikut dan jadi korban pesugihan Faidil. Ia tidak mau adiknya mati sia-sia, lebih baik Riyas tidak menikah sekalian daripada harus menjadi istri dari juragan muda tersebut.


**** 

“Yas, Mas mau bicara sama kamu.” Ucap Dalman lantang.


Ini adalah hari ketiga setelah penolakan yang ia lakukan pada Faidil. Sejak itu, Riyas memilih untuk mendiamkannya.


“Mas mau kamu menikah dengan Heru. Mas sudah bicarakan hal ini dengan Pak Bagiyo.” Lanjutnya yang membuat Riyas bereaksi dengan cepat.


“Maksud Mas apa? Menikah itu bukan permainan yang bisa Mas atur sesuka hati. Aku nggak ada rasa sama Heru!” tolak Riyas cepat.


Dalman sudah menduga akan terjadi hal seperti ini, ia memang sengaja melakukan itu agar Riyas terlepas dari bayang Faidil.


“Ini demi kebaikan kamu, setidaknya kamu akan aman—”


“Aman dari apa, Mas? Mas Faidil bukan orang jahat, dia orang baik.” Potong Riyas cepat.


Dalman berkacak pinggang, ia menatap Riyas dengan tatapan tajam.


“Baik kamu bilang? Lalu, sekarang jelaskan kenapa kematian istri-istrinya begitu janggal? Kamu masih kecil!” bentak Dalman yang mulai terpancing emosi.


Riyas menggigit bibir bawahnya, “Aku juga nggak tau soal itu, Mas. Tapi, Mas sudah dengar kalau ada yang iri dengan keluarga Mas Faidil, bukan? Kematian mantan istrinya bukan perbuatan Mas Faidil atau keluarganya.” Bantah Riyas, kekeh dengan pendiriannya.


Dada Dalman naik-turun, panas juga mendengar pembelaan sang adik.


“Kamu belain dia sampai kayak gitu, karena apa, Yas? Apa kalian sudah …,”


“MAS, CUKUP!” teriak Riyas yang mengejutkan Dalman.


Gadis itu menekan dadanya yang terasa sesak. “Aku ini adik Mas Dalman, kita tumbuh dengan asuhan Emak dan Bapak yang menjunjung tinggi nilai agama. Bahkan, Emak nggak akan ragu memukul kita dengan rotan kalau terlambat salat, dan Mas berpikir aku sudah melakukan zinah dengan Mas Faidil?” ucapnya dengan nada suara yang ditinggikan.


Perdebatan itu membuat Rokayah yang sedang mengulen bahan untuk donat jualannya terlonjak kaget. Ia segera berlari dan mendapati suami serta adik iparnya masih bersitegang.


“Lalu, apa yang membuat kamu kekeh kalau bukan Faidil penyebab kematian istrinya, Yas?” 


Riyas mengusap air matanya, “Mas tau kalau aku juga nggak akan bisa jawab pertanyaan itu ‘kan? Aku akan menuruti keinginan Mas Dalman buat nggak menerima lamaran Mas Faidil, aku Insya Allah ikhlas. Tapi, Mas nggak bisa paksa aku buat menikah dengan Heru.”


Dalman akan kembali bersuara namun lengannya ditarik oleh Rokayah. Dengan cepat Rokayah membawa suaminya menuju ke dapur.


“Kamu ini apa sih, Ro! Aku harus kasih pengertian ke Riyas.” Bentak Dalman.


Rokayah memaksa lelaki itu untuk duduk terlebih dahulu.


“Pengertian apa, Mas Dal? Mas malah buat dia semakin tertekan. Sudah, Riyas sudah menuruti keinginan Mas untuk menolak Faidil, bukan? Seharusnya, Mas pun berhenti sampai disitu. Bukan malah memaksa Riyas menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai.” 


Dalman mengatur napasnya, “Kamu diam saja, ini urusan aku dengan adik aku!”


“Dia juga adik aku, Mas!” sergah Rokayah tidak mau kalah.


Mereka terus berdebat hingga suara ketukan pintu terdengar nyaring, hal itu membuat keduanya saling bertatapan.


“Assalamualaikum, Mas Dalman? Mbak Rokayah?” 


Terdengar panggilan disusul ketukan pintu yang semakin keras, seolah orang yang ada di depan sana sangat tidak sabar untuk menemui si Tuan rumah.


“I—iya, sebentar.” Balas Rokayah, ia lalu mengambil jilbab yang tergantung di gagang pintu.


Dengan berlari kecil, wanita itu segera menuju ke pintu utama dan membukanya. Dalman mengekor di belakang istrinya. Saat pintu terbuka, tampak seorang wanita sedang berdiri dan segera masuk bahkan sebelum Tuan rumah mempersilahkannya terlebih dahulu.


“Ju-Juragan Yasmin?” lirih Rokayah dan Dalman bersamaan.


“Iya, ini aku. Di mana Riyas, Dalman? Aku harus bertemu dengannya.” Tanya wanita dengan penampilan sederhana namun sangat bersahaja itu. Ia tampak sangat panik.


“Ada apa Juragan? Apa ada sesuatu?” tanya Dalman masih tidak mengerti, kenapa wanita itu mencari adiknya.


Bukannya menjawab, wajah Juragan Yasmin semakin panik saat telepon genggamnya berdering. Dalam suasana tegang ia mengangkat telepon yang ternyata dari anak sulungnya.


[Bu, di mana? Mana Riyas? Aku udah nggak bisa nahan Faidil lagi. Ya Allah!]


Terdengar kepanikan dari nada suara Fadillah di ujung telepon. Dalman bisa mendengarnya karena volume suara telepon yang cukup keras.


"‘Iyo, Nduk, sek! Tahan sebentar, Ibu masih nyari Riyas.” Jawab Juragan Yasmin.


“Mana adikmu, Dal? Yas? Riyas, keluar Nduk!” teriaknya bagai orang kesetanan.


Rokayah berusaha menenangkan, namun wanita itu sudah seperti orang yang kehilangan akal sehat. Keributan itu membuat beberapa tetangga tertarik dan penasaran, mulai terlihat kerumunan yang berdiri di halaman rumah Dalman. Riyas keluar dengan wajah sembab, jilbab merah muda yang ia kenakan tak bisa menutupi wajahnya yang pucat.


“Bu Yasmin?” 


Wanita yang di maksud segera mendekat dan menggenggam jemari lentik Riyas, “Ikut Ibu, Nduk. Selamatkan Faidil.” Ajaknya.


Dalman akan melarang namun Rokayah menahan suaminya, ia ingin tau apa sebenarnya yang sedang terjadi.


“Faidil, dia sakit hati dan mencoba bunuh diri karena kecewa atas penolakan kamu, Nduk. Dia, dia … mengancam akan menenggak obat hama, Yas!” pekik Juragan Yasmin dengan berurai air mata.


Lanjut part 3..

Komentar