May*t-may*t yang menari (part 3)

 MAY*T-MAY*T YANG MENARI (3)


****

“Kamu ini apa-apaan sih, Mas? Kamu kok jadi kayak gini?!” pekik Riyas saat melihat Faidil yang tampak lemas, tangannya diikat oleh Barhan, suami Fadillah. 


Wajah lelaki itu tampak pucat, bibirnya kering, tatapan matanya pun kosong.


“Aku nggak tau lagi, Yas. Hati aku capek, aku lelah di anggap pemb*nuh. Aku bahkan nggak tau salahku di mana, padahal aku juga nggak mau kehilangan orang yang aku sayang. Amira, Marinka, Ajeng … mereka semua wanita yang aku sayangi, maka dari itu aku mempersunting mereka.


Tapi, kamu tau sendiri, mereka semua meninggal tak wajar. Hasil autopsi ketiganya pun menunjukkan nggak ada bekas penganiayaan. Sumpah Demi Allah, aku nggak pernah menyakiti perempuan. 


Semua orang menyalahkan aku, semua bilang aku punya pesugihan dan mereka semua yang jadi tumbalnya, tapi untuk yang kedua kalinya aku bersumpah, aku nggak pernah menganut ilmu hitam macam itu, Yas. Aku bisa buktikan, kalau aku juga korban disini,” jelas Faidil. Kemejanya basah oleh keringat, sedang air mata meleleh di pipinya.


Melihat kondisi Faidil dan mendengar penjelasannya membuat hati Dalman tersentuh.


“Aku sayang sama kamu, Yas, aku cinta. Aku mau kamu jadi istriku, dan aku janji akan menjaga kamu. Aku nggak akan membiarkan ada sesuatu yang menyakiti kamu, aku janji.” Ucapnya lagi.


Dalman merasa bersalah dan maju mendekat padanya.


“Aku minta maaf sudah memperlakukanmu secara buruk, tapi, apa kamu bisa menjaga Riyas? Dia adikku satu-satunya.” Suaranya terdengar pelan, namun masih bisa ditangkap oleh Faidil.


Lelaki itu mendongak, ia mengangguk cepat.


“Aku akan menjaganya dengan nyawaku, Mas Dalman. Aku janji. Berikan satu kesempatan, aku juga akan segera mencari tau apa sebenarnya yang terjadi pada semua mantan istriku yang sudah berpulang terlebih dahulu.” Jawabnya tegas.


Dalman bisa merasakan kesungguhan pada ucapan lelaki itu, ia lantas meminta izin untuk membuka tali yang mengikat tangan Faidil. 


“Dengan ini, aku Dalman Saputro, menerima lamaran kamu untuk adikku Riyas Wahyuningsih.”


Hal itu membuat Riyas tak percaya, ia dengan cepat memeluk Dalman erat. Dalman pun membalas pelukan adiknya. Seluruh orang yang ada di ruangan itu menitikkan air mata dan ikut merasa terharu. Berulang kali Riyas mengucapkan rasa terima kasih pada sang Kakak yang berharap tidak akan pernah menyesali keputusan besarnya.


**** 

Pernikahan antara Riyas dengan Faidil dibuat secara tertutup dan sederhana, hal itu dilakukan atas permintaan Dalman yang tak mau keluarga mempelai pria menghamburkan uang walaupun sebenarnya mereka mampu. 


Hari itu juga Riyas diboyong untuk tinggal bersama dengan keluarga Faidil di rumah besar mereka. Ia merasa tak masalah sebab tak mungkin pengantin baru itu tinggal bersamanya di rumah peninggalan orang tua mereka.


Seminggu setelah pernikahan adiknya, Dalman mulai merasa ada yang janggal. Semua bermula saat ia memimpikan seorang wanita yang sedang menari di ruang tengah rumahnya. Wanita itu menari dengan gemulai, ia mengenakan kebaya merah dan setiap ia bergerak akan tercium aroma darah yang sangat amis. Awalnya, Dalman tak mempermasalahkan hal itu dan menganggapnya hanya sebatas bunga tidur saja, ia berusaha acuh dan melupakannya.


Seperti pagi yang sudah-sudah, Dalman yang bekerja sebagai tukang ojek itu duduk di teras rumahnya dan menikmati secangkir kopi. Ia akan berangkat sekalian mengantar Inayah ke sekolahnya. Semua terasa normal hingga Inayah turun dari motor, mata Dalman tak sengaja melihat memar pada bagian tengkuk putrinya.


“Ina, sini dulu Nak, Bapak mau tanya sebentar.” Panggilnya.


Inayah yang akan masuk ke dalam sekolah berbalik, saat diperhatikan putrinya juga tampak sedikit pucat. Dalman berinisiatif meraba dahi Inayah, namun punggung tangannya merasakan suhu tubuh yang normal.


“Ina sakit?” tanyanya cemas.


Inayah tak menjawab. Ia hanya menggeleng.


“Ada apa sayang? Apa Ina ada yang ganggu?” 


Sekali lagi Inayah tak menjawab. Hal itu membuat Dalman yakin ada sesuatu yang terjadi, ia memutuskan untuk membawa sang putri kembali pulang. Di jalan, ia mengingat seorang teman lama mendiang Bapaknya, dan akhirnya membelokkan motornya ke arah rumah orang tersebut.


Semakin dekat dengan rumah orang itu, perasaan Dalman semakin tak karuan. Ia juga merasa ada yang sedang mengikutinya. Hari masih pagi, namun Dalman sangat takut saat harus melewati jalanan yang kanan-kirinya di penuhi oleh kebun tebu milik salah satu pabrik besar yang ada di daerah itu. Ia juga merasa tak nyaman ketika mengetahui jika Inayah mencuri pandang dan memperhatikannya dari kaca spion.


“Kita mau apa ke sini, Pak?” tanya Inayah, yang tak mau turun dari motor.


“Bapak mau ketemu teman Kakung, kamu ikut ya?” ajaknya.


Biasanya gadis itu selalu ceria, namun kali ini Dalman menerima penolakan dari sang putri. 


“Biarkan saja putrimu, Dal. Sini, kemarilah.” Suara seorang lelaki mengejutkan Dalman dari arah belakang.


Ia segera berbalik dan mendapati seorang lelaki berusia 70 tahun sedang menatapnya dari teras rumahnya. Lelaki itu hanya tersenyum, namun Dalman bisa menangkap sorot mata tak suka dari Inayah.


“Aku mau pulang, Pak.” rengek Inayah saat Dalman akan berjalan ke teras rumah lelaki itu.


Dalman tak menggubris Inayah, ia hanya menarik tangan putrinya dengan sedikit kasar. Ia merasa ada yang aneh pada putrinya. Inayah semakin meronta, lelaki tua tadi berteriak memanggil seorang pemuda yang kemudian berlari dan menahan tubuh gadis kecil yang mulai mengamuk itu.


“Lepaskan aku, lepas!” pekik Inayah, namun suaranya terdengar sangat aneh.


“Ikat dia, No.” perintah lelaki tua tadi.


Tanpa banyak bertanya, Dalman membantu Herno mengikat tangan dan kaki Inayah, gadis kecil itu mulai tenang saat lelaki tua yang menggunakan koko putih dan sarung hitam itu membaca Ayat Kursi, ia juga membaca surat Al-Fatihah dan meniup ke arah ubun-ubunnya.


****

Dalman meremas gelas berisi teh melati yang disuguhkan oleh Mbah Sawiji, ia sangat marah karena dari penuturan lelaki sepuh itu ada sosok yang menginginkan tubuh Inayah untuk dijadikan tempat tinggal.


“Tidak apa-apa, anakmu akan segera bangun. Jangan khawatir, Le.” Pesan Mbah Wiji.


“Dari mana datangnya sosok itu, Mbah? Saya nggak pernah punya musuh, saya juga nggak pernah ajak Ina kemana-mana. Kok, tiba-tiba bisa ada sosok yang menganggu anak saya?” tanyanya.


Mbah Wiji menyalakan sebatang rokok yang ia gulung sendiri. Aroma tembakau memenuhi indra penciuman Dalman.


“Saya belum tau darimana, tapi sosok itu akan kembali datang lagi. Ada sesuatu yang ia inginkan dari keluarga kamu.” Jawab Mbah Wiji dengan nada suara datar.


Dalman memajukan tubuhnya, pangkal alisnya bertemu mendengar penuturan lelaki tua itu.


“Apa itu, Mbah? Apa yang dia inginkan dari keluargaku?”


Mbah Wiji menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Satu tangannya tampak sedang meraba sesuatu di udara. Bibirnya berkomat-kamit entah membaca apa, Dalman tak bisa mendengarnya dengan jelas.


“Kematian.” Ucap Mbah Wiji tiba-tiba yang membuat mata Dalman melotot dengan sempurna.


***

Lanjut part 4

Komentar